Bagi banyak orang tokoh favorit dari cerita The Three Musketeers adalah D'Artagnan, tapi saya memilih Milady de Winter. Menurut saya Milady jauh lebih memikat daripada para musketir yang sebenarnya menjadi protagonis dalam kisah Alexandre Dumas tersebut. Dalam serial roman D'Artagnan (Three Musketeers, Twenty Years After, Vicomte de Bragellone) Milady merupakan satu-satunya tokoh perempuan yang digambarkan dengan kuat. Satu-satunya yang cukup mengimbangi adalah Anne dari Austria, yang pada buku pertama digambarkan sebagai perempuan yang ditekan oleh Kardinal Richelieu. Dia jadi jauh lebih tegar pada pada buku-buku berikutnya, namun dia tidak pernah dapat mengimbangi Kardinal Mazarin ataupun anaknya Louis XIV.
Buat Dumas mungkin tidak ada yang positif dari Milady. Dia digambarkan sebagai tipe perempuan yang paling ditakuti para pria: cantik, banyak akal, licik dan pintar merayu, tanpa menjelaskan bagaimana watak Milady ini terbentuk. Hanya sedikit informasi latar belakang tentang perempuan ini. Kita hanya mengetahui bahwa Milady pernah merayu dan kemudian lari dengan seorang calon pendeta, kemudian menikahi seorang bangsawan bernama Comte de La Fere. Bangsawan ini kemudian menggantung Milady, saat menemukan bahwa bahu Milady memiliki cap yang hanya dimiliki penjahat. Namun Milady ternyata bertahan hidup, dan kemudian menjadi agen Kardinal Richelieu.
Kecerdikan Milady de Winter terlihat ketika dia berhasil mencuri dua butir intan yang dikenakan Duke of Buckingham tanpa ketahuan. Ketika dia ditangkap oleh iparnya Lord de Winter di Inggris, Milady berhasil membujuk letnan penjaga penjara agar membebaskannya dan membunuh Buckingham. Dengan terbunuhnya Duke of Buckingham, bantuan Inggris ke La Rochelle, kubu kaum Protestan, berhenti dan kota itu ditaklukkan Perancis. Milady de Winter juga berhasil membunuh pacar d'Artagnan, Constance Bonacieux ... ketika para musketir mendekat. Perlu gabungan empat orang musketir tangguh, pasukan elit Kerajaan Perancis, untuk menghentikan sepak terjangnya.
Meskipun digambarkan Dumas sebagai monster, saya kadang-kadang memandang Milady sebagai perempuan yang hidup di masa yang salah. Di zaman sekarang, meskipun akan tetap memandangnya salah, orang masih akan bisa menoleransi aksi Milady mengajak lari calon pendeta. Namun pada saat itu tindakan tersebut membawa cap pada bahunya dan menjadi beban seumur hidup buat perempuan itu. Pada saat "pengadilan akhir", Milady meminta agar para musketir mendengarkan kisah versi dia sendiri, namun suaranya terbungkam.
2 komentar:
"Nice artikel, inspiring ditunggu artikel - artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim's :)"
Terima kasih mas.
Poskan Komentar