28 Jul 2010

Ke Jawa Timur (I)

Seminggu kemarin saya berjalan-jalan mengunjungi beberapa kota di Jawa Timur, bersama seorang kawan sekantor. Perjalanan ini sudah agak lama juga direncanakan. Tiket pesawat sudah dipesan sejak tiga bulan sebelumnya. Rencananya adalah adalah mengunjungi Bromo, lalu ke Malang dan terakhir kembali ke Surabaya sebelum akhirnya pulang ke Jakarta.

Saya belum pernah mengunjungi Jawa Timur. Jadi saya tidak punya bayangan apa-apa tentang daerah ini. Ketika pesawat menyentuh landasan di bandara Juanda Surabaya, saya melihat sebuah hangar Angkatan Laut, yang mengingatkan saya bahwa Surabaya adalah pangkalan utama untuk TNI-AL. Teman-teman saya yang pernah ke Surabaya menyebutnya sebagai kota yang panas. Namun saya tidak sempat terpapar lama terhadap teriknya matahari Surabaya. Kami kemudian segera naik bus Damri ke Terminal Bungurasih, makan siang sebentar di sana, dan kemudian naik bus Patas AC ke Probolinggo.

Probolinggo bukanlah kota satu-satunya yang bisa disinggahi sebelum mencapai Bromo. Tapi dari informasi yang saya cari sebelumnya kota ini merupakan yang satu-satunya menyediakan angkutan umum ke pintu gerbang

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kondektur bus antarkota yang saya tumpangi berbaik hati menunjukkan pangkalan angkutan umum ke Bromo, yang letaknya tak jauh dari Terminal Probolinggo. Kami sampai di Probolinggo lewat tengah hari. Angkutan umum ini hanya ada sampai pukul 16.00 sore

Angkutan ke Bromo itu berupa minibus, dengan ukuran hampir sama dengan yang biasa dipakai travel Jakarta-Bandung. Namun jangan menyangka kenyamanannya sama. Minibus diisi sangat padat dengan penumpang. Backpack kami yang cukup berbobot ditaruh di atap minibus, bersama-sama barang-barang penumpang lain yang dirasa akan memakan tempat. Sebagian besar tampaknya penduduk asli, namun ada tiga orang bule yang turut menumpang. Saya duduk di depan dengan salah seorangnya, seorang lelaki perokok berambut keemasan. Di sepanjang perjalanan dia membaca buku pengarang asal Afghanistan Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns. Kami tidak banyak berbicara, namun dia kemudian menyebutkan bahwa dia belum memesan penginapan di Bromo. Dia jelas lebih nekad daripada kami.

Ketika mobil terus mendaki, jalan yang sebelumnya lurus menjadi banyak berkelok-kelok Tikungan-tikungan tajam tidak banyak mengurangi keberanian sopir buat memacu mobilnya. Saya yang duduk di depan dan agak terpojok ke pintu agak ngeri juga karena saya tidak yakin dengan keamanan pintu depan minibus. Tapi kengerian saya itu agak berkurang melihat pemandangan yang disajikan di hadapan: lembah dan pegunungan hijau berhutan, dengan puncak-puncak gunung bersaput awan yang tampak seperti kapas.

Hotel tempat kami menginap, Yoschi, berada 5 km dari perhentian akhir, Cemoro Lawang. Penginapan mungil ini menghadap sebuah lembah kecil di pinggir jalan. Sebuah papan kecil dalam bahasa Jerman (yang baru saya perhatikan pada saat akan keluar),

mengiklankan bahwa restoran di sana "menyediakan kentang tumbuk (mashed potatoes bahasa kerennya) terbaik dalam 20 tahun". Kamar yang kami pesan, yang paling murah, bersih dan cukup nyaman dengan dinding dari anyaman rotan, tapi tanpa kamar mandi di dalam. Ada dua kamar mandi umum untuk sekitar 6 kamar ditambah tiga kamar mandi lagi di dekat restoran, satu di antaranya kamar mandi air panas.

Kami sampai di hotel sekitar pukul 3 sore (kalau tidak salah). Masih cukup lama waktu sebelum malam tiba. Saya tergoda untuk terus berjalan kaki ke Cemoro Lawang, namun akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja sekitar hotel untuk melihat-lihat dan mencari warung makan. Restoran di hotel baru buka pukul tujuh malam, masih terlalu lama. Berjalan-jalan sekitar hotel ini ternyata berarti melangkah di jalan menanjak, dan membuat nafas terengah-engah. Namun udara pegunungan yang bersih cukup menyegarkan paru-paru. Kami berfoto-foto di beberapa tempat, termasuk di dekat sebuah pura yang tidak jauh dari hotel.

Meskipun rasanya sudah berjalan cukup jauh, kami belum juga menemukan tempat yang tampaknya adalah warung makan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Matahari sudah semakin rendah, dan kabut sudah turun. Gunung-gunung di sebelah utara yang tadinya masih kelihatan sudah sama sekali tertutup awan putih. Hujan renik (mungkin hujan zenith kalau pengetahuan geografi saya masih benar) sempat menerpa. Kami akhirnya makan malam di hotel saja.

Saya memesan mi kuah untuk makan malam dan jahe untuk minuman. Ada live music juga, dan meskipun penerangan cukup restoran memberikan lilin di setiap meja pengunjung. Musik Latin (kalau tidak salah) baru benar-benar dimainkan ketika kami hampir selesai makan. Kawan saya memutuskan untuk masuk kamarnya lebih dahulu, dan saya bertahan beberapa lama menikmati musik sebelum akhirnya masuk ke kamar saya. Kami harus bangun dini hari untuk naik jeep ke Bromo. Lebih baik tidur lebih cepat.

2 komentar:

tata mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
tata mengatakan...

lah dilihat dari foto2nya*foto rumah/penginapan*tampak bukan di Jawa Timur,,tapi ternyata d Jawa Timur toh,,entah karna unik