Bila kita bicara tentang budaya Minangkabau modern emas sering terabaikan. Bicara tentang Minangkabau atau orang Minang yang teringat mungkin masakannya, kemampuannya sebagai pedagang, keindahan alam, tapi bukan emas. Saat ini pertambangan emas di Sumatera Barat tidak lagi terdengar.
Namun sebenarnya emas Sumatera pernah terkenal sebagai Pulau Emas, atau Suwarnadwipa menurut istilah Sansekerta. Sumber emas yang dulu terkenal adalah di Minangkabau. Belanda konon datang ke Indonesia buat mencari rempah-rempah, namun ketika mereka datang ke Minangkabau di abad ke-17, selain lada mereka juga mencari emas.
Kerajaan Pagaruyung yang sekarang sudah tinggal nama itu juga berdiri gara-gara emas. Ketika Adityawarman di abad ke-14 memindahkan ibukota kerajaan Melayu dari Jambi ke Tanah Datar, salah satu alasannya adalah untuk menguasai sumber emas.
Menurut sejarawan Inggris Christine Dobbin penguasaan raja-raja Minangkabau terhadap emas ini terus berlangsung berabad-abad sejak masa Adityawarman, sampai pecahnya Perang Padri. Dalam bukunya Islamic Revivalism in Changing Peasant Economy Dobbin memaparkan dengan cukup baik bagaimana keluarga kerajaan ini mengendalikan tambang-tambang emas dan perdagangannya baik ke pantai barat (Pariaman dan Padang) maupun ke pantai timur (Siak, Kampar-Pelalawan dan Indragiri).
Dengan berangsur habisnya cadangan emas di Minangkabau, kemakmuran dan pengaruh keluarga bangsawan di Minangkabau pun ikut pupus. Ekonomi Minangkabau kemudian beralih ke ekspor tanaman keras seperti kulit manis, gambir, dan kopi. Penanaman dan perdagangan tanaman-tanaman tersebut terlepas dari kendali para bangsawan Pagaruyung dan Suruaso. Desa-desa penghasil komoditas ekspor baru ini kemudian banyak yang memihak kaum Padri dalam perang melawan golongan adat.
Bisa dibilang, Kerajaan Pagaruyung berdiri karena emas dan runtuh juga karena emas.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar