25 Mei 2009

Menulis di kertas

Sudah lama juga saya tidak menulis buku harian. Buku harian benaran, terbuat dari kertas, bukan blog, bukan yang ditulis di komputer. Saya terpikir hal ini ketika beberapa waktu lalu harus menulis agak banyak di buku catatan.

Pikiran saya setelah berpanjang lebar menulis di kertas : betapa tidak terbacanya tulisan saya ini. Tulisan tangan saya dari dulu memang buruk. Ketika sekolah dasar nilai pelajaran menulis saya tidak pernah lebih tinggi daripada angka tujuh, meskipun sudah berusaha keras. Angka enam lebih sering didapat. Untungnya pelajaran itu tidak ada lagi di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Namun tetap saja dalam masa-masa setelah itu beberapa kali guru-guru saya mencela tulisan saya,

Saya pasrah saja. Tulisan saya memang begitu, mau diapakan lagi?

Mungkin itu yang membuat saya antusias merangkul teknologi mesin ketik, lalu komputer. Tulisan tangan saya yang rombeng dan bisa bikin mata berbulu tersembunyi aman.

Namun sekarang saya pikir menulis tangan tetap punya pesonanya sendiri. Saya merasa tulisan lebih mengalir di kertas. Mungkin karena tidak ada godaan untuk menekan tombol backspace, menghapus untuk memilih kata-kata yang lebih enak, lebih indah atau lebih rapi. Tidak ada godaan untuk memperbaiki tata bahasa yang kacau balau.

Ketika tinta sudah ditorehkan, tidak ada kesempatan untuk kembali, kata-kata tidak bisa terhapus. Tulisan di atas kertas terasa lebih abadi dan tahan lama dibandingkan ketika ia hanya merupakan pulsa arus listrik di rangkaian elektronik komputer. Scripta manent, verba volant, ungkapan yang berlaku untuk kalam, dawat dan kertas.

1 komentar:

Buyung mengatakan...

I cannot agree more than that! Tulisan tangan memang tidak dapat tergantikan. Ibu saya masih lebih senang membaca surat dari anak-anaknya daripada email atau sms. "Lebih otentik," kata beliau.

Uda Gombang memang benar. Namun, bagi saya (dan juga mungkin bagi sebagian yang lain) yang sudah termanjakan dengan teknologi, menulis di atas kertas membuat cepat capek -- ujung-ujungnya produktivitas menurun.

Kecuali sedang melakukan "back-envelope calculation" di atas kereta atau pesawat, saya praktis tidak pernah lagi menulis di atas kertas.

Pernah saya coba untuk membuat konsep kuliah di catatan saya, ternyata hanya bertahan sebentar. Ada LaTeX yang memungkinkan saya menulis apapun seperti di atas kertas, plus saya dapat mengumpulkan konsep-konsep kuliah itu menjadi catatan kuliah (dan lama-lama jadi buku untuk dijual hehehe).

Apakah ini salah satu tanda pergeseran zaman?