Singkat saja, karena saya sendiri tidak memilikinya. Saya cuma memindai buku ini sekitar setengah jam sewaktu Stania memperlihatkannya beberapa waktu yang lalu. Konon banyak yang memujinya, jadi saya jadi ingin tahu apa sebenarnya yang bagus dan menarik dari novel tersebut.
Setelah membaca sekilas saya tidak cukup tertarik untuk membelinya. Kritik saya terutama menyangkut gaya. Pengarang menggunakan sudut pandang pertama. Narator merupakan salah satu tokoh dalam kisah, seorang anak Melayu Belitung. Pilihan sudut pandang orang pertama seperti ini punya keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri, dan saya pikir sebenarnya pengarang dapat mendayagunakannya dengan lebih baik.
Yang mengganggu saya adalah narator berkisah seperti orang dewasa. Saya seperti membaca Andrea Hirata yang sudah besar bertutur kepada saya. Bahasa sang narator terlalu rumit dan terlalu modern untuk seorang anak kecil (atau remaja). Lalu kenapa? Bukankah memang kenyataannya demikian? Ya, namun dalam suatu novel narator tidak selalu harus dipandang sama dengan pengarang itu sendiri. Bila pengarang adalah lelaki Jawa berumur 20-an, naratornya bisa punya identitas lain: misalnya seorang Eropa yang tinggal di Indonesia, seorang perempuan tua Sunda berumur 70-an, atau seorang Cina yang mengungsi karena kerusuhan 1998. Dalam novel ini naratornya adalah anak kecil di pulau Belitung, namun suara yang terdengar masihlah Andrea Hirata dewasa.
Bertutur dengan suara (voice) bocah memang sukar, dan itu sebenarnya salah satu tantangan bila seorang pengarang ingin menceritakan kanak-kanak dari sudut pandang orang pertama. Namun itu bisa dilakukan. Dua contoh terkenal mungkin Huckleberry Finn dan To Kill A Mockingbird. Mark Twain berhasil menuturkan dengan suara si kecil Huck Finn di buku pertama, dan Harper Lee meyakinkan kita bahwa pencerita di buku kedua benar-benar si gadis kecil bandel Scott Finch. Mereka bisa saja mengambil sudut pandang orang dewasa atau orang ketiga, namun pemilihan suara narator yang mereka ambil membuat cerita jauh lebih menohok.
Ketika saya membaca Laskar Pelangi awalnya saya berharap dapat membaca pengalaman bocah-bocah di Belitung dari mata seorang anak kecil. Namun pandangan yang muncul adalah pandangan orang dewasa. Salahkah? Tidak, tapi seperti Pangeran Kecil saya masih tidak percaya orang dewasa dapat memahami anak-anak.
Setelah membaca sekilas saya tidak cukup tertarik untuk membelinya. Kritik saya terutama menyangkut gaya. Pengarang menggunakan sudut pandang pertama. Narator merupakan salah satu tokoh dalam kisah, seorang anak Melayu Belitung. Pilihan sudut pandang orang pertama seperti ini punya keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri, dan saya pikir sebenarnya pengarang dapat mendayagunakannya dengan lebih baik.
Yang mengganggu saya adalah narator berkisah seperti orang dewasa. Saya seperti membaca Andrea Hirata yang sudah besar bertutur kepada saya. Bahasa sang narator terlalu rumit dan terlalu modern untuk seorang anak kecil (atau remaja). Lalu kenapa? Bukankah memang kenyataannya demikian? Ya, namun dalam suatu novel narator tidak selalu harus dipandang sama dengan pengarang itu sendiri. Bila pengarang adalah lelaki Jawa berumur 20-an, naratornya bisa punya identitas lain: misalnya seorang Eropa yang tinggal di Indonesia, seorang perempuan tua Sunda berumur 70-an, atau seorang Cina yang mengungsi karena kerusuhan 1998. Dalam novel ini naratornya adalah anak kecil di pulau Belitung, namun suara yang terdengar masihlah Andrea Hirata dewasa.
Bertutur dengan suara (voice) bocah memang sukar, dan itu sebenarnya salah satu tantangan bila seorang pengarang ingin menceritakan kanak-kanak dari sudut pandang orang pertama. Namun itu bisa dilakukan. Dua contoh terkenal mungkin Huckleberry Finn dan To Kill A Mockingbird. Mark Twain berhasil menuturkan dengan suara si kecil Huck Finn di buku pertama, dan Harper Lee meyakinkan kita bahwa pencerita di buku kedua benar-benar si gadis kecil bandel Scott Finch. Mereka bisa saja mengambil sudut pandang orang dewasa atau orang ketiga, namun pemilihan suara narator yang mereka ambil membuat cerita jauh lebih menohok.
Ketika saya membaca Laskar Pelangi awalnya saya berharap dapat membaca pengalaman bocah-bocah di Belitung dari mata seorang anak kecil. Namun pandangan yang muncul adalah pandangan orang dewasa. Salahkah? Tidak, tapi seperti Pangeran Kecil saya masih tidak percaya orang dewasa dapat memahami anak-anak.
11 komentar:
Mungkin karena pembaca yang disasar buku itu memang bukan anak-anak?
Huckleberry Finn dan To Kill A Mockingbird juga bukan buku anak-anak kok.
yang juga bukan buku anak-anak dan bercerita dengan sudut pandang anak-anak/remaja yang bagus banget itu bukunya dbc pierre vernon god little dan the curious incident of the dog in the night time-nya mark haddon. yah, untuk buku indonesia, lumayanlah laskar pelangi :)
Agar lebih bisa memahami buku laskar pelangi..Anda harus paham bahwa Buku Laskar Pelangi adalah buku yg diTulis oleh seorang yg bukan penulis dan TIDAK untuk diterbitkan ? Sehingga penulis tidak pernah memikirikan apakah bahasa yg dipergunakan akan dapat dimengerti oleh anak2 atau masyarakat awam.. apalagi oleh seorang gombang... Niat menulis buku2 tsb adalah hanya untuk dipersembahkan kepada mantan guru teman teman nya...
Buku ini memang ditulis dengan gaya penuturan masa lalu oleh seorang dewasa... jadi wajar saja kalau tidak terkesan dituturkan oleh seorang anak...
Gaya penulisan tentu saja sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan penulis dan juga latar belakang nya sebagai orang melayu... Tapi tahukan anda bahwa semua itulah yg menjadi daya tarik dari novel2 Andrea Hirata...
Anonymous 2, sekarang kan laskar pelangi sudah DITERBITKAN? Jadi wajar aja dong kalo isinya sudah jadi domain publik, diinterpretasikan masyarakat umum dan tentu saja, dikritik!
Kalo novel semacam Laskar Pelangi dikatakan sebagai novel yang keren dan fantastik, pertanyaan di benak saya: Kemana aja bung selama ini?
Dibandingkan dengan beberapa novel sastra lain yang 'tidak populer' di kalangan masyarakat awam, misalnya Soska (cecep Syamsul Hari), Nayla (Djenar Maesa Ayu), Bilangan Fu (Ayu Utami); Laskar Pelangi berada dalam urutan paling bawah dari sudut pandang kritikus sastra. Tidak percaya? silahkan buktikan dan bandingkan sendiri dengan membaca novel yang saya sebutkan di atas.
Siapa ya yang bilang Laskar Pelangi keren dan fantastis di sini? Baca dulu bung sebelum komentar.
kritik yang bagus,
aku setuju dengan mas gombang.
Tapi tidak adil jika novel sekelas Laskar Pelangi mau disejajarkan dengan novel To kill a mockingbird-nya Harper Lee atau setidaknya begitulah..
Setelah membaca buku LP yang pertama aku tidak tertarik untuk membaca buku keduanya.
pokonya buku laskar pelangi beda....itu aja.
(anonim2)
buku bagus ato gak tergantung daya tahannya, waktu yang membuktikan, generasi berikutnya yang berhak menilai. Kalau penilaian generasi sekarang itu tendensius, masih kontemporer, sama kayak orang jualan gadget baru, popularitas dibantu iklan. Menurut gue ya Laskar Pelangi jangan dibandingkan dengan novel2nya Mark Twain yang udah terbukti lebih dari 100tahun orang2 Amerika masih suka sama cerita tentang petualangan gengnya Tom Sawyer sama Finn.
menurut saya, sebagai seorang remaja SMA, novel tersebut menarik kok. kata-katanya juga tidak terlalu berat.
coba Anda baca detail lagi, jangan sekilas membaca. Novel tersebut memang bukan dinaratori oleh anak kecil kan? narator adalah laki-laki yang sedang berkuliah di luar negeri, yang umurnya juga tidak dapat digolongkan sebagai umur 'anak kecil', karena, bahkan teman seperjuangannya sudah memiliki anak berusia SD. ini menandakan, umurnya pasti sudah lebih dari 25 tahun, paling tidak, berkepala 2. jadi, tidak masalah kok, kalo Andrea Hirata menggunakan sudut pandang dewasa.
terimakasih :)
Poskan Komentar