11 Nov 2014

Cerpen: Si Gadis Perancis

Saya menemukannya duduk sendirian. Dia meletakkan tasnya yang berwarna hijau di kursi kosong di sampingnya. Kursi satu lagi tak ditempati, dan saya duduk di sana.

Sebelumnya saya berjumpa gadis bule ini saat check-in. Saya berdiri di belakangnya, menunggu. Agak lama akhirnya ia baru beranjak memberikan kesempatan pada saya. Sekejap saja saya mengamatinya berlalu. Yang dapat saya tangkap cuma sosok gadis berambut pirang, tinggi sekitar 165 cm, menyandang pullover biru melangkah cepat ke tangga berjalan.

Lalu saya tidak lagi memperhatikannya. Saya berpikir tentang pekerjaan saya di Jakarta, yang harus kembali saya hadapi setelah sepuluh hari berlibur. Saya berpikir betapa kota kelahiran saya terasa begitu berbeda dibandingkan terakhir kali saya pulang ke sana.

Setelah mengambil boarding pass, saya membayar pajak dan asuransi, lalu masuk ke boarding lounge dan menunggu di sana. Sekilas saya melihat gadis bule tadi duduk sendirian. Saya sibuk dengan pikiran-pikiran saya yang terkadang memang bandel dan merepotkan. Terkadang saya membandingkan pikiran-pikiran saya dengan keponakan-keponakan saya yang nama-namanya tak lagi dapat saya ingat satu-satu. Mereka sama-sama nakal dan susah diatur.

Kembali ke gadis bule tersebut. Dia duduk di kursi dekat jendela pesawat. Dia membentangkan baki makan di depannya, dan meletakkan fotokopian buku di atasnya. Dia memegang sebatang pena dan sibuk membuat catatan dengannya. Dia tidak mengacuhkan pramugari yang sibuk memperagakan cara-cara memakai sabuk, menggunakan tabung oksigen dan pelampung. Dan tampaknya ia juga tidak mengacuhkan saya.

Nah, ini yang paling tidak saya tahan. Saya paling suka mengabaikan orang lain. Misalnya saya naik kereta api ke Bandung sebelumnya. Saya duduk di samping seorang ibu-ibu. Dia berkali-kali mencoba menarik perhatian saya. Dengan senang hati saya menyambut kesempatan untuk lagi-lagi tidak peduli pada orang lain. Ia mengoceh sendirian tetapi saya hanya menguap, berkali-kali memandang jendela dan berpura-pura tidur. Ketika akhirnya ibu-ibu itu berhenti berbicara saya memandang mukanya yang cemberut itu dengan perasaan senang.

Tetapi saya benci bila orang mengabaikan saya. Saya lalu memutuskan untuk mengganggunya.

"Maaf, nona," kata saya dengan suara cukup keras. "Bisa Bahasa Indonesia?"

Gadis bule itu mengalihkan perhatiannya dan melemparkan pandangan sekilas, sebelum kembali lagi mencoret-coret fotokopiannya.

"Probably not," kata saya beralih ke Inggris. "Do you speak English?"

Kali ini gadis bule itu memandang kepada saya cukup lama dengan matanya yang berwarna kelabu itu. "I am sorry?"

Saya mengulanginya.

"Not very well."

Rupanya ia berasal dari negara yang tidak berbahasa Inggris. Saya melirik ke fotokopiannya.

"Parlez-vous français?"

"Oui."

Gadis bule itu mengatakan sesuatu, dalam bahasa Perancis.

"Maaf nona, saya tidak paham bahasa Perancis. Kata-kata yang saya ketahui cuma oui, non, parlez-vous francais?, je t'aime, merci beaucop, sacre bleu dan merde," kata saya dalam bahasa Inggris.

Gadis bule itu mengerutkan kening, dan menggelengkan kepala. Lalu senyumnya mengembang.

"Anda orang Perancis? Atau Belgia?"

"Perancis."

"Excuse me, we are going to take off in a minute, miss." Seorang pramugari tiba-tiba datang. "Please," ia memberi isyarat dengan tangannya meminta untuk menutup baki makan. Setelah gadis bule itu melakukannya pramugari tersebut berlalu.

Gadis bule itu sekarang mengalihkan pandangan ke jendela. Sementara itu pesawat terbang mempercepat lajunya di landas pacu, lalu sebentar saja saya merasakan tubuh tertekan ke kursi, kemudian getaran roda pesawat menggelinding di aspal berhenti. Pesawat terangkat.

Saya ikut memandang keluar. Dari kaca jendela sebelah kanan itu terlihat lautan membentang berwarna biru keperakan. Rasanya saya dapat mengenali perahu nelayan berlayar di laut.

Lalu gadis itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke jendela. Ia sekarang menutupi sebagian besar kaca. Saya terpaksa beralih menikmatinya.

Saya menimbang-nimbang. Gadis ini mungkin cantik. Paling tidak untuk ukuran bule. Agak sulit menilai wajah bule, karena mereka jarang ditemui pada kehidupan sehari-hari. Kecuali di film Hollywood, tentunya, yang isinya mereka semua. Tapi saya curiga mereka sudah didandani habis-habisan. Di sini saya menemukan gadis bule yang hampir bebas dari make-up. Tak ada bedak (atau mungkin tipis) atau lipstik.

Dagunya persegi, yang tidak terlalu saya suka. Tapi rambut pirangnya yang keriting kecil-kecil dan dijepit di belakang dengan jepitan rambut berwarna merah bata itu memikat. Pipinya merah terbakar matahari. Tapi jangat di lengannya yang terbuka sampai ke siku masih menampakkan warna aslinya. Dan jangat itu mulus, tidak berbintik-bintik seperti banyak bule yang saya jumpai.

Rasanya tidak sopan memelototi perempuan lama-lama. Saya mencoba mengalihkan perhatian dan membuka komputer tablet, dan membaca buku elektronik yang tersimpan di sana.

Setelah beberapa bab saya melirik kembali si gadis bule. Ia kembali menekur di atas fotokopiannya. Saya kembali tak diacuhkan. Padahal saya kira kami sudah mulai akrab. Darah saya kembali naik ke kepala.

Dengan lancang saya kembali mengganggu.

"Maaf, miss, Anda mahasiswa?"

"Anda tahu dari mana?"

"Anda terlihat seperti mahasiswa," kata saya. "Paling tidak, mahasiswa di Indonesia."

Saya berbohong. Saya belum pernah melihat mahasiswa di Indonesia membaca buku teks di atas pesawat. Tapi gayanya mencoret-coret fotokopian mengingatkan saya pada mahasiswa yang sedang belajar di kantin.

"Saya asisten profesor."

"Dosen?"

"Mahasiswa pascasarjana," katanya.

Saya sudah melirik fotokopiannya berkali-kali, berusaha membaca apa yang tertera di sana. Saya menangkap beberapa kata seperti Aceh, GAM, dan Hasan Tiro.

"Universitas mana? Sorbonne?" saya berpura-pura tolol. Kecil kemungkinannya ia kuliah di sana. Lagipula seingat saya Sorbonne sudah menjadi bagian Universitas Paris.

"Non. Lyon."

"Anda mempelajari apa? Sumatera Barat?" kata saya kembali pura-pura tolol.

"Aceh."

"Ah, lalu mengapa Anda berkunjung ke Padang?" tanya saya kurang ajar.

"Saya meneliti pengaruh Aceh di pesisir barat Sumatera."

"Ah. Begitu. Saya senang ada peneliti cantik tertarik pada negeri saya yang cantik ini."

Dia cuma mendecakkan lidah, lalu kembali mengambil penanya.

"Saya ingin tahu mengapa banyak orang Perancis yang tertarik dengan Indonesia."

Ia tidak mengacuhkan.

"Saya pernah membaca buku sejarawan Anda. Denys Lombard, tentang sejarah Pulau Jawa."

Ia menoleh, terlihat tertarik.

"Orang-orang Perancis hebat menulis buku-buku seperti itu. Saya suka."

"Anda sejarawan? Atau sosiolog?"

"Tidak. Saya cuma wartawan."

Gadis itu mendengus. Saya bisa memaafkannya karena ia punya hidung mancung yang cantik.

"Bagaimana pendapat Anda tentang Sumatera Barat?"

"Bagus," katanya. "Bagus." Setelah itu gadis Perancis itu mengatakan beberapa hal yang kemudian tidak lagi saya perhatikan karena mata saya melihat sesuatu.

Saya tersenyum pencong, mencoba melupakan apa yang baru saya lihat dan berusaha lebih hati-hati.

Namun sekarang gadis itu sekarang lebih bersemangat. Apalagi setelah ia tahu saya asli Sumatera Barat. Ia bercerita perjalanannya di Danau Maninjau.

"Saya mencoba terbang layang di atas danau," katanya. "Begitu indah. Anda beruntung punya danau seperti itu. Anda pernah mencobanya?"

"Tidak," kata saya.

"Ah, Anda harus mencoba kapan-kapan. Mungkin kalau nanti Anda pulang lagi."

Setelah pesawat turun dan para penumpang mengambil bagasi saya menemukannya menunggu taksi di depan terminal bandara Cengkareng. Ia melambai.

Sebelumnya ia memberikan nomor teleponnya. "Anda bisa menelepon saya di sini," katanya. "Kapan-kapan kita harus mengobrol lagi."

Saya tahu bahwa saya tidak akan meneleponnya. Saya teringat ibu saya yang prihatin karena saya berpacaran dengan gadis yang tidak berasal dari kampung.

Saya memimpikannya, si gadis Perancis. Tetapi bagaimana dengan ibu saya?

Apa kata ibu saya bila saya jadi berpacaran dengan gadis Perancis tersebut? Ia akan menangis menggerung-gerung dan berkata-kata bahwa saya tidak akan pulang.

Tapi itu tidak akan terjadi karena di atas pesawat saya melihat cincin di jari manis gadis tersebut. Ia tidak menyebutnya, tapi saya kira ia sudah menikah atau bertunangan.

Dan gadis Perancis ini akan tinggal mimpi saja. Suatu hari saya akan kawin, dengan gadis Indonesia. Mungkin dengan pacar saya yang sekarang. Kelak, istri saya akan melahirkan anak yang lucu-lucu dan saya akan sering pulang untuk menenteramkan hati ibu saya.



Padang-Jakarta, 2007-2014

22 Sep 2014

Fiksi ilmiah bahasa Indonesia tidak ada yang bermutu? Inilah penyebabnya

Buku yang sering saya baca (ulang) akhir-akhir ini adalah fiksi ilmiah.  Baru-baru ini saya selesai membaca lagi Anathem karangan Neal Stephenson, serta Red Mars Trilogy karya Kim Stanley Robinson. Saya juga suka cerita-cerita karya Isaac Asimov dan seri Dune karangan Frank Herbert.

Lalu saya terpikir bahwa khazanah sastra Indonesia sangat minim (kalau tidak mau menyebut tidak ada) fiksi ilmiah bermutu. Dee Lestari pernah mencoba dengan Supernova, tapi hasilnya bagi saya cuma jejalan istilah fisika, dan keengganan untuk membaca buku Dee lagi. Saya tidak ingat lagi usaha lain yang terkenal dan berhasil.

Setelah berpikir pendek (saya kira pemikiran panjang soal ini menuntut penelitian serius), penyebab masalah ini menurut saya ada dua. Pertama, para pengarang Indonesia banyak yang buta sains (dan teknologi). Kedua, ketidakpahaman bahwa yang terpenting dalam fiksi ilmiah tetap ceritanya, seperti fiksi genre lainnya.

Sekilas dua hal ini saling bertolak belakang, tapi sebenarnya masih ada kaitan.

Dampak yang paling nyata dari buta sains dan teknologi jelas kegagapan menangani konsep-konsep sains yang muncul dalam cerita.  Ini tidak selalu bisa diperbaiki dengan riset, bila riset berarti "mengumpulkan fakta-fakta dan data". Akibatnya fatal buat penutur cerita: ketidakmampuan membayangkan dampak sains itu sendiri dalam alur kisah.

Kegagalan memahami sains akan menggoda penulis untuk memasukkan begitu saja hasil risetnya dalam cerita, tanpa memilah mana yang penting untuk ditonjolkan dan mana yang perlu disembunyikan. 

Kisah fiksi ilmiah yang populer belum tentu juga memenuhi kaidah-kaidah sains yang berlaku (paling tidak yang dikenal pada saat ini). Contoh terbaik adalah kisah-kisah space opera. Sampai saat ini kita belum mengetahui bagaimana hukum fisika memungkinkan perjalanan dengan kecepatan melebihi laju cahaya. Penjelasan aspek ini biasanya dihindari, dan diterima jadi saja. Time travel juga konsep lain yang sering tidak dijelaskan. Ini bisa diterima karena ceritanya sendiri memikat.

Cerita fiksi ilmiah yang bagus menurut saya malah mendorong aspek ilmiah dan teknologinya itu sendiri ke latar belakang. Pengecualiannya muncul bila (1) aspek ilmiah dan teknologisnya sangat-sangat menarik untuk diceritakan. Ini hanya memenuhi syarat bila konsep yang ditawarkan sama sekali baru atau kecil kemungkinan diketahui pembaca (2) konsepnya sangat penting buat alur cerita.

Contoh bagus buat kasus pertama ini adalah pengetahuan geologi planet Mars yang dideskripsikan panjang lebar dalam Red Mars Trilogy. Buat banyak orang ini akan membosankan, bahkan buat penggemar fiksi ilmiah. Namun buat saya ini memancing rasa ingin tahu lebih tentang planet merah tersebut.

Kasus kedua misalnya bisa ditemui psychohistory dalam Foundation Trilogy (Asimov), bioteknologi dalam Red Mars Trilogy (Kim Stanley Robinson), fisika kuantum banyak-dunia dalam Anathem, manipulasi genetika dalam seri Uplift (David Brin).

Bila unsur sains dan teknologinya tidak memenuhi kedua syarat ini, lebih baik disurukkan saja (tapi tetap terasa).

NB: Anda merasa judul posting ini mirip judul tulisan di situs berita online? Maklum saya sudah tercemar karena terlalu eksis di dunia maya.















26 Agt 2014

If

If I cannot I have you, I'll steal your character and frame it in a story. Then I can have you in a world that truly mine alone. Perhaps you will still be rebellious and uncontrolled and stubborn, but perhaps not. But then I won't lose you because of conditions and people out of my control.




8 Sep 2013

The peril of meeting a pretty, intelligent girl


What can go wrong when you meet a pretty, intelligent, girl? Let me count the ways.

First, you may be too enchanted to speak. To drink in her beauty. Her eyes. Her lips. Her musical voice. Her laugh. You are too giddy to know that this girl give you her precious time to meet and talk. And then you suddenly realize that you have to speak. It would be awkward not to. And you ransack your brain what kind of topic will be suitable. You sputtered sentences go out. You feel stupid for your choice of words. The tone of your voice goes wrong. Maybe she will notice. You're hoping she will not.

Maybe the conversation will run smoothly. Maybe you'll both click. Only she is intelligent. And attractive. You want to impress her. You begin to talk nonsense. Things you don't really know, things that really above your head. And you pretend to understand complex words and ideas that she throws easily around. You're too embarrassed to say you sometimes barely comprehend them.

And then, sooner or later she signals that the conversation should come to an end. You don't want to it to end, you want to prolong the moment. You try to cover up your disappointment by a smile. You hope she won't detect it. But then you fear she will, feeling something strange within you, something wrong, something sinister. 

You fear that when you ask her to meet again, she won't assent to it. Then your meeting will be only a memory. A beautiful, treasured memory. But how to know it is not only a dream?





10 Agt 2013

Melerai kesedihan

Dalam waktu yang hampir bersamaan saya dan kawan saya dirundung sedih. Penyebabnya juga mirip. Saya tidak akan menyebut kenapa (maaf, masalah pribadi), tapi saya lebih tertarik membandingkan bagaimana cara saya dan dia mencoba melerai kesedihan masing-masing.

Kawan saya tampaknya memilih untuk curhat: menghubungi kawan-kawannya (termasuk saya juga), dan bercerita. Dia punya banyak teman baik.  Tampaknya mereka juga dapat membantu menghibur.

Saya memilih jalan lain. Meskipun teman dekat saya tidak banyak saya bercerita-cerita juga (tidak ada gunanya menutup-nutupi kepada teman-teman dekat sendiri), tetapi buat saya itu tidak banyak membantu.

Saya lebih banyak berjalan kaki, pergi ke taman kota dan perpustakaan, dan mengamati Jakarta yang mulai sepi ketika Lebaran mendekat. Saya membaca buku (lagi) dan mencoba menulis fiksi. Beberapa kali saya memotret sudut kota yang saya sukai, meskipun kemampuan fotografi saya jauh dari beres. Saya mencoba belajar bagaimana mengendalikan mood dengan lebih baik.

Ketika membandingkan saya dan kawan saya, ada pikiran yang terbersit di benak. Kami jelas beda temperamen: dia ekstrovert dan saya introvert ekstrem. Adakah pengaruhnya kepada cara menghibur diri?

10 Okt 2012

Mempertanyakan Wikipedia bahasa Minangkabau

Tulisan ini bermula dari sebuah pembicaraan di Citywalk Jakarta, beberapa tahun lalu, di sebuah sore dalam sebuah kedai kopi. Saya diajak oleh Ivan Lanin untuk menemui Nabil Berri, salah seorang wikipediawan asal Banda Aceh yang datang bertandang ke Jakarta. Salah satu pertanyaan yang diajukannya adalah "kapan membuat Wikipedia bahasa Minang?"

Pertanyaan ini membuat saya berpikir. Cukup banyak kontributor Wikipedia bahasa Indonesia keturunan Minangkabau atau mampu berbahasa Minang.  Saya dan Ivan adalah contohnya. Namun saat itu (dan sampai sekarang) Wikipedia edisi bahasa Minang belum juga wujud. Sementara itu, Wikipedia edisi bahasa Nusantara lainnya seperti Jawa, Sunda, Bugis,  Melayu sudah dibuat dan sudah berisi puluhan ribu entri. Nabil Berri sendiri sedang merintis Wikipedia bahasa Aceh (sekarang sudah resmi menjadi proyek Wikimedia Foundation). 

Tanpa maksud membela diri, saya kira saya bisa menunjukkan keengganan orang Minang membuat Wikipedia dalam bahasa ibunya itu sebagai cerminan kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau. Tentunya tidak berarti orang Minang enggan menulis. Saya bisa mengajukan banyak sekali nama. Banyak perintis sastra dan bahasa Indonesia adalah orang Minang. Hanya saja hampir semuanya menulis dalam bahasa Indonesia (Melayu). Kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau juga ditunjukkan oleh gagalnya penerbitan koran berbahasa Minangkabau di Sumatera Barat.

Tradisi tulis orang Minang adalah dalam bahasa Melayu. Ketika orang-orang bicara tentang naskah kuno di Sumatera Barat, hampir semuanya ditulis dalam bahasa tersebut. Konon dulu ada aksara asli Minang, tapi ini sudah lama dilupakan. Tambo Minangkabau, naskah yang dianggap "sejarah" asal-usul oleh orang Minang, juga disalin dalam bahasa Melayu, menggunakan huruf Arab. Tidak mengherankan bila orang Minang modern juga lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia: mereka hanya meneruskan tradisi pendahulunya. 

Saya sendiri berpendapat membuat Wikipedia bahasa Minangkabau tidak terlalu banyak manfaatnya. Kebanyakan orang Minang diajarkan membaca dalam bahasa Indonesia/Melayu, baik menggunakan huruf Latin maupun huruf Arab. Jadi buat orang Minang sendiri pengembangan Wikipedia bahasa Indonesia akan lebih baik. 

Salah satu alasan yang sering diajukan ketika membuat edisi Wikipedia bahasa Nusantara adalah untuk mempertahankan tradisi. Namun tradisi apa yang hendak dipertahankan bila orang Minang sendiri tradisi menulisnya adalah dalam bahasa Indonesia? Bahasa Minangkabau berabad-abad hidup sebagai bahasa lisan, dan saya kira tidak akan punah hanya karena tidak ditulis. 

Sah-sah saja bila orang Minang ingin menciptakan lagi kebiasaan menulis dalam bahasa Minangkabau. Tapi dalam hal ini saya kira Wikipedia bukanlah tempatnya. Lebih baik bila orang Minang merintis (lagi) penerbitan karya sastra dan media tulis dalam bahasa Minangkabau. 

Tentunya ini tidak berarti Wikipedia bahasa Minangkabau tidak bisa didirikan. Kuncinya hanya niat, dan cukup banyak kontributor aktif. Dan mungkin juga gengsi kedaerahan. Ada juga kendala-kendala praktis yang mungkin akan dihadapi, tapi sebaiknya saya tidak menulisnya di sini. Saya tidak ingin dituduh mematahkan semangat orang.

Tambahan: yang ingin merintis Wikipedia bahasa Minangkabau, bisa mengunjungi inkubator Wikipedia bahasa Minangkabau 



9 Nov 2010

Misteri di Jalan Sintra

Apa beda fiksi dan fakta? Di Lisboa, akhir abad ke-19, sebuah cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di koran tampaknya menceritakan kejadian nyata di balik selubung fiksi. Tanpa pretensi membuka tabir "kebenaran", dan penuh dengan perincian yang patut menjadi bahan gosip, cerpen tersebut menjadi pemicu pergunjingan kelas atas Portugal masa itu. Seorang countess cantik, Countess V, berselingkuh dengan perwira tentara Inggris di Malta, Kapten Rytmel. Kisah cinta ini diperumit tak hanya oleh kehadiran suami sang countess, tetapi juga oleh sepupu lelakinya yang diam-diam mencintainya, dan seorang gadis Kuba yang sebelumnya menjadi kekasih sang kapten gagah tersebut. Bagaimana jalinan kisah cinta penuh skandal ini akan berakhir?

Beberapa orang yang tersinggung, di antaranya seorang bangsawan (count) berkali-kali memperingatkan pengarangnya, Eça dan Ramalho, untuk berhenti menulis cerbung tersebut atau paling tidak mengubah detailnya. Film A Mistério da Estrada de Sintra (Misteri di Jalan Sintra) menceritakan kisah penulisan cerbung ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Hasilnya adalah seperti cerita di dalam cerita, atau cerita berbingkai.

Film Misteri di Jalan Sintra ini, yang diproduksi di Portugal tahun 2007, merupakan salah satu film yang diputar pada Festival Film Eropa tahun 2010. Saya menontonnya bersama dua orang kawan di Kineklub Taman Ismail Marzuki.

Buat saya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana Eça dan Ramalho berkolaborasi menulis cerbung, dan bagaimana mereka menuangkan cerita yang memang berasal dari kisah nyata tersebut ke dalam bentuk fiksi. Meskipun diintimidasi, kedua pengarang ini cukup berani mengambil jalan sendiri. Diceritakan juga bagaimana sambutan pada cerita tersebut berpengaruh kepada oplah koran yang menerbitkannya. Ketika oplah turun, sang redaktur koran tampak uring-uringan dan mendesak agar kedua pengarang agar tidak terlalu bertele-tele dalam bercerita.

Fiksi tak harus sesuai dengan kenyataan, dan kedua pengarangnya memilih penyelesaian cerita yang terasa klise. Namun agaknya ini tidak masalah buat para pembacanya, yang pada akhirnya digambarkan puas dengan kisah yang ditulis Eça dan Ramalho.