
Sabtu malam itu tidur saya tidak terlalu nyenyak, terganggu oleh suara musik sayup-sayup dan hawa dingin. Biarpun mengenakan jaket, sweater, kaus kaki dan selimut, udara dingin masih tetap terasa. Meskipun begitu akhirnya saya bisa juga tertidur barang dua-tiga jam. Saya terbangun sekitar setengah jam sebelum jadwal keberangkatan ke Pananjakan, pukul 03.00 dinihari.
Setelah menunggu sebentar, saya membangunkan Ayu, kawan saya, dan menunggunya di luar di dekat restoran. Sudah banyak tamu-tamu hotel yang bersiap-siap berangkat. Kebanyakan turis asing. Semua mengenakan pakaian hangat lengkap.
Kami menumpang sebuah jeep hardtop berwarna merah jambu, bersama-sama dengan dua pasang turis asal Perancis. Salah satunya, lelaki, tampaknya keturunan Arab. Harga sewa jeep ini per orangnya Rp 90 ribu. Tanpa jeep wisatawan harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 10 km dari Cemoro Lawang ke Pananjakan. Ada juga yang memilih menunggangi sepeda motor. Di sepanjang perjalanan ke Pananjakan, di tengah pagi buta yang masih gelap dan berkabut, kami menemukan banyak orang-orang seperti ini. Hampir semua berombongan.
Jeep berhenti agak jauh dari puncak Pananjakan, yang harus dicapai dengan jalan kaki. Di tempat ini hawa dingin memaksa saya untuk memasang sarung tangan, selain sweater dan kupluk yang sudah ada. Ayu selain memakai jaket juga mengenakan baju berlapis.

Dingin dan gelap rupanya tidak mengurangi keinginan banyak wisatawan untuk menikmati matahari terbit di Pananjakan. Jeep-jeep berderetan membawa para wisatawan, dan semakin naik semakin ramai orang. Ketika kami sampai, puncak Pananjakan sudah dijejali orang yang berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit.
Di tempat ini saya menemukan lebih banyak lagi wisatawan dari luar negeri. Dari menguping paling tidak ada satu keluarga dari Belanda (sepasang suami istri dan tiga orang anak perempuan), satu keluarga dari Perancis ( suami istri dan dua orang gadis kecil), dan seorang Belgia. Masih banyak wisatawan asing lainnya yang tidak saya ketahui asalnya. Beberapa orang wisatawan domestik menyapa mereka dan mengajak buat berfoto-foto.
Meskipun meriah, sayangnya ketika matahari terbit itu sendiri tertutup oleh awan dan kabut tebal. Kami harus menunggu sampai pukul enam ketika matahari sudah lebih tinggi dan mampu mengenyahkan kabut. Sayangnya kami tidak bisa lama-lama.
Ketika turun, pemandangan yang tadinya terselubung oleh kelam dinihari mulai kelihatan. Kami dapat menikmati lembah dan puncak-puncak pegunungan Tengger dengan lebih jelas. Lembah yang sebelumnya gelap sekarang tampak menghijau, dan puncak-puncak pegunungan mulai terlihat. Kami berhenti di sebuah spot tempat Bromo dan Semeru terlihat jelas, dan berfoto-foto di sana, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo, yang sebenarnya sudah dilewati ketika menuju Pananjakan.

Bromo terletak di sebuah kaldera yang luas, dan disebut dengan "lautan pasir." Meskipun disebut sebagai lautan pasir, kaldera ini ditumbuhi tanam-tanaman hijau, dan terlihat seperti permadani dari jauh. Hanya di dekat Bromo saja tidak ada tanaman, dan benar-benar berpasir. Di dekat kaki Gunung Bromo terletak sebuah pura. Jeep tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, dan terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan bermotor agar tidak dapat terlalu dekat. Untuk naik ke kaki gunung, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Para pemilik kuda cukup gigih menawarkan jasanya. Awalnya mereka menawarkan dengan harga cukup mahal. Namun sewaktu kami terus berjalan, harganya semakin jatuh. Ayu akhirnya naik kuda (menurutnya dia hanya membayar Rp 20 ribu), sementara saya terus berjalan kaki.
Untuk ke puncaknya sendiri kami harus menaiki jenjang yang cukup curam, dan tentu saja tidak dapat dilalui oleh kuda. Kawahnya sendiri menurut saya biasa-biasa saja, tidak jauh berbeda dengan Tangkuban Perahu misalnya. Namun pemandangan di sekeliling gunung lebih mengesankan. Kita bisa melihat seluruh lautan pasir yang menghijau dengan lebih jelas, sebuah puncak di samping Bromo, dan Pura Poten di kejauhan.
Setelah puas menyaksikan pemandangan, kami turun dan kembali ke penginapan. Setelah sarapan dan mandi, kami check-out dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Malang. Rencananya kami akan bergabung dengan kawan dari Yogya di sana.
Bila ketika berangkat kami naik angkutan umum, ketika turun ke Probolinggo kami naik ojek. Biayanya lebih mahal, Rp 65 ribu per orang. Dari Probolinggo kami naik bus ke Malang, dan sampai sekitar pukul setengah lima sore di hotel yang sudah dipesan sebelumnya.