26 Agt 2014

If

If I cannot I have you, I'll steal your character and frame it in a story. Then I can have you in a world that truly mine alone. Perhaps you will still be rebellious and uncontrolled and stubborn, but perhaps not. But then I won't lose you because of conditions and people out of my control.




8 Sep 2013

The peril of meeting a pretty, intelligent girl


What can go wrong when you meet a pretty, intelligent, girl? Let me count the ways.

First, you may be too enchanted to speak. To drink in her beauty. Her eyes. Her lips. Her musical voice. Her laugh. You are too giddy to know that this girl give you her precious time to meet and talk. And then you suddenly realize that you have to speak. It would be awkward not to. And you ransack your brain what kind of topic will be suitable. You sputtered sentences go out. You feel stupid for your choice of words. The tone of your voice goes wrong. Maybe she will notice. You're hoping she will not.

Maybe the conversation will run smoothly. Maybe you'll both click. Only she is intelligent. And attractive. You want to impress her. You begin to talk nonsense. Things you don't really know, things that really above your head. And you pretend to understand complex words and ideas that she throws easily around. You're too embarrassed to say you sometimes barely comprehend them.

And then, sooner or later she signals that the conversation should come to an end. You don't want to it to end, you want to prolong the moment. You try to cover up your disappointment by a smile. You hope she won't detect it. But then you fear she will, feeling something strange within you, something wrong, something sinister. 

You fear that when you ask her to meet again, she won't assent to it. Then your meeting will be only a memory. A beautiful, treasured memory. But how to know it is not only a dream?





10 Agt 2013

Melerai kesedihan

Dalam waktu yang hampir bersamaan saya dan kawan saya dirundung sedih. Penyebabnya juga mirip. Saya tidak akan menyebut kenapa (maaf, masalah pribadi), tapi saya lebih tertarik membandingkan bagaimana cara saya dan dia mencoba melerai kesedihan masing-masing.

Kawan saya tampaknya memilih untuk curhat: menghubungi kawan-kawannya (termasuk saya juga), dan bercerita. Dia punya banyak teman baik.  Tampaknya mereka juga dapat membantu menghibur.

Saya memilih jalan lain. Meskipun teman dekat saya tidak banyak saya bercerita-cerita juga (tidak ada gunanya menutup-nutupi kepada teman-teman dekat sendiri), tetapi buat saya itu tidak banyak membantu.

Saya lebih banyak berjalan kaki, pergi ke taman kota dan perpustakaan, dan mengamati Jakarta yang mulai sepi ketika Lebaran mendekat. Saya membaca buku (lagi) dan mencoba menulis fiksi. Beberapa kali saya memotret sudut kota yang saya sukai, meskipun kemampuan fotografi saya jauh dari beres. Saya mencoba belajar bagaimana mengendalikan mood dengan lebih baik.

Ketika membandingkan saya dan kawan saya, ada pikiran yang terbersit di benak. Kami jelas beda temperamen: dia ekstrovert dan saya introvert ekstrem. Adakah pengaruhnya kepada cara menghibur diri?

10 Okt 2012

Mempertanyakan Wikipedia bahasa Minangkabau

Tulisan ini bermula dari sebuah pembicaraan di Citywalk Jakarta, beberapa tahun lalu, di sebuah sore dalam sebuah kedai kopi. Saya diajak oleh Ivan Lanin untuk menemui Nabil Berri, salah seorang wikipediawan asal Banda Aceh yang datang bertandang ke Jakarta. Salah satu pertanyaan yang diajukannya adalah "kapan membuat Wikipedia bahasa Minang?"

Pertanyaan ini membuat saya berpikir. Cukup banyak kontributor Wikipedia bahasa Indonesia keturunan Minangkabau atau mampu berbahasa Minang.  Saya dan Ivan adalah contohnya. Namun saat itu (dan sampai sekarang) Wikipedia edisi bahasa Minang belum juga wujud. Sementara itu, Wikipedia edisi bahasa Nusantara lainnya seperti Jawa, Sunda, Bugis,  Melayu sudah dibuat dan sudah berisi puluhan ribu entri. Nabil Berri sendiri sedang merintis Wikipedia bahasa Aceh (sekarang sudah resmi menjadi proyek Wikimedia Foundation). 

Tanpa maksud membela diri, saya kira saya bisa menunjukkan keengganan orang Minang membuat Wikipedia dalam bahasa ibunya itu sebagai cerminan kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau. Tentunya tidak berarti orang Minang enggan menulis. Saya bisa mengajukan banyak sekali nama. Banyak perintis sastra dan bahasa Indonesia adalah orang Minang. Hanya saja hampir semuanya menulis dalam bahasa Indonesia (Melayu). Kurangnya tradisi tulis dalam bahasa Minangkabau juga ditunjukkan oleh gagalnya penerbitan koran berbahasa Minangkabau di Sumatera Barat.

Tradisi tulis orang Minang adalah dalam bahasa Melayu. Ketika orang-orang bicara tentang naskah kuno di Sumatera Barat, hampir semuanya ditulis dalam bahasa tersebut. Konon dulu ada aksara asli Minang, tapi ini sudah lama dilupakan. Tambo Minangkabau, naskah yang dianggap "sejarah" asal-usul oleh orang Minang, juga disalin dalam bahasa Melayu, menggunakan huruf Arab. Tidak mengherankan bila orang Minang modern juga lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia: mereka hanya meneruskan tradisi pendahulunya. 

Saya sendiri berpendapat membuat Wikipedia bahasa Minangkabau tidak terlalu banyak manfaatnya. Kebanyakan orang Minang diajarkan membaca dalam bahasa Indonesia/Melayu, baik menggunakan huruf Latin maupun huruf Arab. Jadi buat orang Minang sendiri pengembangan Wikipedia bahasa Indonesia akan lebih baik. 

Salah satu alasan yang sering diajukan ketika membuat edisi Wikipedia bahasa Nusantara adalah untuk mempertahankan tradisi. Namun tradisi apa yang hendak dipertahankan bila orang Minang sendiri tradisi menulisnya adalah dalam bahasa Indonesia? Bahasa Minangkabau berabad-abad hidup sebagai bahasa lisan, dan saya kira tidak akan punah hanya karena tidak ditulis. 

Sah-sah saja bila orang Minang ingin menciptakan lagi kebiasaan menulis dalam bahasa Minangkabau. Tapi dalam hal ini saya kira Wikipedia bukanlah tempatnya. Lebih baik bila orang Minang merintis (lagi) penerbitan karya sastra dan media tulis dalam bahasa Minangkabau. 

Tentunya ini tidak berarti Wikipedia bahasa Minangkabau tidak bisa didirikan. Kuncinya hanya niat, dan cukup banyak kontributor aktif. Dan mungkin juga gengsi kedaerahan. Ada juga kendala-kendala praktis yang mungkin akan dihadapi, tapi sebaiknya saya tidak menulisnya di sini. Saya tidak ingin dituduh mematahkan semangat orang.

Tambahan: yang ingin merintis Wikipedia bahasa Minangkabau, bisa mengunjungi inkubator Wikipedia bahasa Minangkabau 



9 Nov 2010

Misteri di Jalan Sintra

Apa beda fiksi dan fakta? Di Lisboa, akhir abad ke-19, sebuah cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di koran tampaknya menceritakan kejadian nyata di balik selubung fiksi. Tanpa pretensi membuka tabir "kebenaran", dan penuh dengan perincian yang patut menjadi bahan gosip, cerpen tersebut menjadi pemicu pergunjingan kelas atas Portugal masa itu. Seorang countess cantik, Countess V, berselingkuh dengan perwira tentara Inggris di Malta, Kapten Rytmel. Kisah cinta ini diperumit tak hanya oleh kehadiran suami sang countess, tetapi juga oleh sepupu lelakinya yang diam-diam mencintainya, dan seorang gadis Kuba yang sebelumnya menjadi kekasih sang kapten gagah tersebut. Bagaimana jalinan kisah cinta penuh skandal ini akan berakhir?

Beberapa orang yang tersinggung, di antaranya seorang bangsawan (count) berkali-kali memperingatkan pengarangnya, Eça dan Ramalho, untuk berhenti menulis cerbung tersebut atau paling tidak mengubah detailnya. Film A Mistério da Estrada de Sintra (Misteri di Jalan Sintra) menceritakan kisah penulisan cerbung ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Hasilnya adalah seperti cerita di dalam cerita, atau cerita berbingkai.

Film Misteri di Jalan Sintra ini, yang diproduksi di Portugal tahun 2007, merupakan salah satu film yang diputar pada Festival Film Eropa tahun 2010. Saya menontonnya bersama dua orang kawan di Kineklub Taman Ismail Marzuki.

Buat saya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana Eça dan Ramalho berkolaborasi menulis cerbung, dan bagaimana mereka menuangkan cerita yang memang berasal dari kisah nyata tersebut ke dalam bentuk fiksi. Meskipun diintimidasi, kedua pengarang ini cukup berani mengambil jalan sendiri. Diceritakan juga bagaimana sambutan pada cerita tersebut berpengaruh kepada oplah koran yang menerbitkannya. Ketika oplah turun, sang redaktur koran tampak uring-uringan dan mendesak agar kedua pengarang agar tidak terlalu bertele-tele dalam bercerita.

Fiksi tak harus sesuai dengan kenyataan, dan kedua pengarangnya memilih penyelesaian cerita yang terasa klise. Namun agaknya ini tidak masalah buat para pembacanya, yang pada akhirnya digambarkan puas dengan kisah yang ditulis Eça dan Ramalho.

24 Okt 2010

The End of the Affairs

I am never sure what this story about. Supposedly it was about an affair, but the central actress of the affair died too soon to my taste, and I am left with the anguish and sadness of the lover for too long. A story about an affair is supposed to expose a conflict between the lover and the husband, at the end it seems the conflict was between the lover and God. It was enjoyable nevertheless. You do not need to comprehend a story to like it.

Storytellers who hold on to the doctrine of "show, don't tell", will be perplexed how Graham Greene managed to break the rule and still write quite well. Perhaps because he was British, and the rule, IIRC, was coined by Americans. The conflicts in the story are largely internal. Every characters behave quite politely to each other without much drama. Only at key scenes some characters let her or his emotion blow up. Sometimes silence is much effective in conveying the pain felt by the protagonist to the readers.

18 Sep 2010

One-line people descriptions

One is a witty young man who loves to talk and gossip and have a mischievous laugh.

One is a curious lovely young lady.

One is kind attractive intelligent young lady who smiles a lot.

I met them last week. I wonder whether they can recognise themselves from these one-line descriptions.