9 Nov 2010

Misteri di Jalan Sintra

Apa beda fiksi dan fakta? Di Lisboa, akhir abad ke-19, sebuah cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di koran tampaknya menceritakan kejadian nyata di balik selubung fiksi. Tanpa pretensi membuka tabir "kebenaran", dan penuh dengan perincian yang patut menjadi bahan gosip, cerpen tersebut menjadi pemicu pergunjingan kelas atas Portugal masa itu. Seorang countess cantik, Countess V, berselingkuh dengan perwira tentara Inggris di Malta, Kapten Rytmel. Kisah cinta ini diperumit tak hanya oleh kehadiran suami sang countess, tetapi juga oleh sepupu lelakinya yang diam-diam mencintainya, dan seorang gadis Kuba yang sebelumnya menjadi kekasih sang kapten gagah tersebut. Bagaimana jalinan kisah cinta penuh skandal ini akan berakhir?

Beberapa orang yang tersinggung, di antaranya seorang bangsawan (count) berkali-kali memperingatkan pengarangnya, Eça dan Ramalho, untuk berhenti menulis cerbung tersebut atau paling tidak mengubah detailnya. Film A Mistério da Estrada de Sintra (Misteri di Jalan Sintra) menceritakan kisah penulisan cerbung ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Hasilnya adalah seperti cerita di dalam cerita, atau cerita berbingkai.

Film Misteri di Jalan Sintra ini, yang diproduksi di Portugal tahun 2007, merupakan salah satu film yang diputar pada Festival Film Eropa tahun 2010. Saya menontonnya bersama dua orang kawan di Kineklub Taman Ismail Marzuki.

Buat saya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana Eça dan Ramalho berkolaborasi menulis cerbung, dan bagaimana mereka menuangkan cerita yang memang berasal dari kisah nyata tersebut ke dalam bentuk fiksi. Meskipun diintimidasi, kedua pengarang ini cukup berani mengambil jalan sendiri. Diceritakan juga bagaimana sambutan pada cerita tersebut berpengaruh kepada oplah koran yang menerbitkannya. Ketika oplah turun, sang redaktur koran tampak uring-uringan dan mendesak agar kedua pengarang agar tidak terlalu bertele-tele dalam bercerita.

Fiksi tak harus sesuai dengan kenyataan, dan kedua pengarangnya memilih penyelesaian cerita yang terasa klise. Namun agaknya ini tidak masalah buat para pembacanya, yang pada akhirnya digambarkan puas dengan kisah yang ditulis Eça dan Ramalho.

24 Okt 2010

The End of the Affairs

I am never sure what this story about. Supposedly it was about an affair, but the central actress of the affair died too soon to my taste, and I am left with the anguish and sadness of the lover for too long. A story about an affair is supposed to expose a conflict between the lover and the husband, at the end it seems the conflict was between the lover and God. It was enjoyable nevertheless. You do not need to comprehend a story to like it.

Storytellers who hold on to the doctrine of "show, don't tell", will be perplexed how Graham Greene managed to break the rule and still write quite well. Perhaps because he was British, and the rule, IIRC, was coined by Americans. The conflicts in the story are largely internal. Every characters behave quite politely to each other without much drama. Only at key scenes some characters let her or his emotion blow up. Sometimes silence is much effective in conveying the pain felt by the protagonist to the readers.

18 Sep 2010

One-line people descriptions

One is a witty young man who loves to talk and gossip and have a mischievous laugh.

One is a curious lovely young lady.

One is kind attractive intelligent young lady who smiles a lot.

I met them last week. I wonder whether they can recognise themselves from these one-line descriptions.

15 Agt 2010

A sketch of a familiar story

If you think the story is familiar, perhaps because you have read similar stories before. Perhaps you have witnessed it happened in real life. Perhaps you even experience it yourself. I can assure you this story has happened before, and perhaps is happening in various versions around the world right now. I will just offer a sketch, because the details aren't important.

It is about a woman and a man she loved. The woman was attractive and intelligent. The man loved her back, at least initially. They were happy. They thought had everything in the world and didn't care much about others, as long as they had their love. Which was very wrong, of course.

The man left her. There were reasons. Perhaps there were other woman. Perhaps the woman was the other woman, and the man was coming to his senses. Perhaps he simply didn't love her anymore. A lot of explanations can be told, but it doesn't matter. He left her.

Then there was this other man, who waited. He witnessed the woman fell in love and broken, and went to comfort her. Only the woman was too much in pain and still too much in love with her former lover who abandon her. So he waited for the sadness to subside. You see, this man loved the woman and didn't mind the wait.

There are sad and happy endings to this story, which again are details and aren't really important to me. When I was aware of this story I said I pitied him, whatever the ending would be. I don't want to be in the shoes of that man who waited.

2 Agt 2010

Milady

Bagi banyak orang tokoh favorit dari cerita The Three Musketeers adalah D'Artagnan, tapi saya memilih Milady de Winter. Menurut saya Milady jauh lebih memikat daripada para musketir yang sebenarnya menjadi protagonis dalam kisah Alexandre Dumas tersebut. Dalam serial roman D'Artagnan (Three Musketeers, Twenty Years After, Vicomte de Bragellone) Milady merupakan satu-satunya tokoh perempuan yang digambarkan dengan kuat. Satu-satunya yang cukup mengimbangi adalah Anne dari Austria, yang pada buku pertama digambarkan sebagai perempuan yang ditekan oleh Kardinal Richelieu. Dia jadi jauh lebih tegar pada pada buku-buku berikutnya, namun dia tidak pernah dapat mengimbangi Kardinal Mazarin ataupun anaknya Louis XIV.

Buat Dumas mungkin tidak ada yang positif dari Milady. Dia digambarkan sebagai tipe perempuan yang paling ditakuti para pria: cantik, banyak akal, licik dan pintar merayu, tanpa menjelaskan bagaimana watak Milady ini terbentuk. Hanya sedikit informasi latar belakang tentang perempuan ini. Kita hanya mengetahui bahwa Milady pernah merayu dan kemudian lari dengan seorang calon pendeta, kemudian menikahi seorang bangsawan bernama Comte de La Fere. Bangsawan ini kemudian menggantung Milady, saat menemukan bahwa bahu Milady memiliki cap yang hanya dimiliki penjahat. Namun Milady ternyata bertahan hidup, dan kemudian menjadi agen Kardinal Richelieu.

Kecerdikan Milady de Winter terlihat ketika dia berhasil mencuri dua butir intan yang dikenakan Duke of Buckingham tanpa ketahuan. Ketika dia ditangkap oleh iparnya Lord de Winter di Inggris, Milady berhasil membujuk letnan penjaga penjara agar membebaskannya dan membunuh Buckingham. Dengan terbunuhnya Duke of Buckingham, bantuan Inggris ke La Rochelle, kubu kaum Protestan, berhenti dan kota itu ditaklukkan Perancis. Milady de Winter juga berhasil membunuh pacar d'Artagnan, Constance Bonacieux ... ketika para musketir mendekat. Perlu gabungan empat orang musketir tangguh, pasukan elit Kerajaan Perancis, untuk menghentikan sepak terjangnya.

Meskipun digambarkan Dumas sebagai monster, saya kadang-kadang memandang Milady sebagai perempuan yang hidup di masa yang salah. Di zaman sekarang, meskipun akan tetap memandangnya salah, orang masih akan bisa menoleransi aksi Milady mengajak lari calon pendeta. Namun pada saat itu tindakan tersebut membawa cap pada bahunya dan menjadi beban seumur hidup buat perempuan itu. Pada saat "pengadilan akhir", Milady meminta agar para musketir mendengarkan kisah versi dia sendiri, namun suaranya terbungkam.

1 Agt 2010

Ke Jawa Timur (II)


Sabtu malam itu tidur saya tidak terlalu nyenyak, terganggu oleh suara musik sayup-sayup dan hawa dingin. Biarpun mengenakan jaket, sweater, kaus kaki dan selimut, udara dingin masih tetap terasa. Meskipun begitu akhirnya saya bisa juga tertidur barang dua-tiga jam. Saya terbangun sekitar setengah jam sebelum jadwal keberangkatan ke Pananjakan, pukul 03.00 dinihari.

Setelah menunggu sebentar, saya membangunkan Ayu, kawan saya, dan menunggunya di luar di dekat restoran. Sudah banyak tamu-tamu hotel yang bersiap-siap berangkat. Kebanyakan turis asing. Semua mengenakan pakaian hangat lengkap.

Kami menumpang sebuah jeep hardtop berwarna merah jambu, bersama-sama dengan dua pasang turis asal Perancis. Salah satunya, lelaki, tampaknya keturunan Arab. Harga sewa jeep ini per orangnya Rp 90 ribu. Tanpa jeep wisatawan harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 10 km dari Cemoro Lawang ke Pananjakan. Ada juga yang memilih menunggangi sepeda motor. Di sepanjang perjalanan ke Pananjakan, di tengah pagi buta yang masih gelap dan berkabut, kami menemukan banyak orang-orang seperti ini. Hampir semua berombongan.

Jeep berhenti agak jauh dari puncak Pananjakan, yang harus dicapai dengan jalan kaki. Di tempat ini hawa dingin memaksa saya untuk memasang sarung tangan, selain sweater dan kupluk yang sudah ada. Ayu selain memakai jaket juga mengenakan baju berlapis.

Dingin dan gelap rupanya tidak mengurangi keinginan banyak wisatawan untuk menikmati matahari terbit di Pananjakan. Jeep-jeep berderetan membawa para wisatawan, dan semakin naik semakin ramai orang. Ketika kami sampai, puncak Pananjakan sudah dijejali orang yang berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit.

Di tempat ini saya menemukan lebih banyak lagi wisatawan dari luar negeri. Dari menguping paling tidak ada satu keluarga dari Belanda (sepasang suami istri dan tiga orang anak perempuan), satu keluarga dari Perancis ( suami istri dan dua orang gadis kecil), dan seorang Belgia. Masih banyak wisatawan asing lainnya yang tidak saya ketahui asalnya. Beberapa orang wisatawan domestik menyapa mereka dan mengajak buat berfoto-foto.

Meskipun meriah, sayangnya ketika matahari terbit itu sendiri tertutup oleh awan dan kabut tebal. Kami harus menunggu sampai pukul enam ketika matahari sudah lebih tinggi dan mampu mengenyahkan kabut. Sayangnya kami tidak bisa lama-lama.

Ketika turun, pemandangan yang tadinya terselubung oleh kelam dinihari mulai kelihatan. Kami dapat menikmati lembah dan puncak-puncak pegunungan Tengger dengan lebih jelas. Lembah yang sebelumnya gelap sekarang tampak menghijau, dan puncak-puncak pegunungan mulai terlihat. Kami berhenti di sebuah spot tempat Bromo dan Semeru terlihat jelas, dan berfoto-foto di sana, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo, yang sebenarnya sudah dilewati ketika menuju Pananjakan.



Bromo terletak di sebuah kaldera yang luas, dan disebut dengan "lautan pasir." Meskipun disebut sebagai lautan pasir, kaldera ini ditumbuhi tanam-tanaman hijau, dan terlihat seperti permadani dari jauh. Hanya di dekat Bromo saja tidak ada tanaman, dan benar-benar berpasir. Di dekat kaki Gunung Bromo terletak sebuah pura. Jeep tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, dan terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan bermotor agar tidak dapat terlalu dekat. Untuk naik ke kaki gunung, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Para pemilik kuda cukup gigih menawarkan jasanya. Awalnya mereka menawarkan dengan harga cukup mahal. Namun sewaktu kami terus berjalan, harganya semakin jatuh. Ayu akhirnya naik kuda (menurutnya dia hanya membayar Rp 20 ribu), sementara saya terus berjalan kaki.

Untuk ke puncaknya sendiri kami harus menaiki jenjang yang cukup curam, dan tentu saja tidak dapat dilalui oleh kuda. Kawahnya sendiri menurut saya biasa-biasa saja, tidak jauh berbeda dengan Tangkuban Perahu misalnya. Namun pemandangan di sekeliling gunung lebih mengesankan. Kita bisa melihat seluruh lautan pasir yang menghijau dengan lebih jelas, sebuah puncak di samping Bromo, dan Pura Poten di kejauhan.

Setelah puas menyaksikan pemandangan, kami turun dan kembali ke penginapan. Setelah sarapan dan mandi, kami check-out dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Malang. Rencananya kami akan bergabung dengan kawan dari Yogya di sana.

Bila ketika berangkat kami naik angkutan umum, ketika turun ke Probolinggo kami naik ojek. Biayanya lebih mahal, Rp 65 ribu per orang. Dari Probolinggo kami naik bus ke Malang, dan sampai sekitar pukul setengah lima sore di hotel yang sudah dipesan sebelumnya.

28 Jul 2010

Ke Jawa Timur (I)

Seminggu kemarin saya berjalan-jalan mengunjungi beberapa kota di Jawa Timur, bersama seorang kawan sekantor. Perjalanan ini sudah agak lama juga direncanakan. Tiket pesawat sudah dipesan sejak tiga bulan sebelumnya. Rencananya adalah adalah mengunjungi Bromo, lalu ke Malang dan terakhir kembali ke Surabaya sebelum akhirnya pulang ke Jakarta.

Saya belum pernah mengunjungi Jawa Timur. Jadi saya tidak punya bayangan apa-apa tentang daerah ini. Ketika pesawat menyentuh landasan di bandara Juanda Surabaya, saya melihat sebuah hangar Angkatan Laut, yang mengingatkan saya bahwa Surabaya adalah pangkalan utama untuk TNI-AL. Teman-teman saya yang pernah ke Surabaya menyebutnya sebagai kota yang panas. Namun saya tidak sempat terpapar lama terhadap teriknya matahari Surabaya. Kami kemudian segera naik bus Damri ke Terminal Bungurasih, makan siang sebentar di sana, dan kemudian naik bus Patas AC ke Probolinggo.

Probolinggo bukanlah kota satu-satunya yang bisa disinggahi sebelum mencapai Bromo. Tapi dari informasi yang saya cari sebelumnya kota ini merupakan yang satu-satunya menyediakan angkutan umum ke pintu gerbang

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kondektur bus antarkota yang saya tumpangi berbaik hati menunjukkan pangkalan angkutan umum ke Bromo, yang letaknya tak jauh dari Terminal Probolinggo. Kami sampai di Probolinggo lewat tengah hari. Angkutan umum ini hanya ada sampai pukul 16.00 sore

Angkutan ke Bromo itu berupa minibus, dengan ukuran hampir sama dengan yang biasa dipakai travel Jakarta-Bandung. Namun jangan menyangka kenyamanannya sama. Minibus diisi sangat padat dengan penumpang. Backpack kami yang cukup berbobot ditaruh di atap minibus, bersama-sama barang-barang penumpang lain yang dirasa akan memakan tempat. Sebagian besar tampaknya penduduk asli, namun ada tiga orang bule yang turut menumpang. Saya duduk di depan dengan salah seorangnya, seorang lelaki perokok berambut keemasan. Di sepanjang perjalanan dia membaca buku pengarang asal Afghanistan Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns. Kami tidak banyak berbicara, namun dia kemudian menyebutkan bahwa dia belum memesan penginapan di Bromo. Dia jelas lebih nekad daripada kami.

Ketika mobil terus mendaki, jalan yang sebelumnya lurus menjadi banyak berkelok-kelok Tikungan-tikungan tajam tidak banyak mengurangi keberanian sopir buat memacu mobilnya. Saya yang duduk di depan dan agak terpojok ke pintu agak ngeri juga karena saya tidak yakin dengan keamanan pintu depan minibus. Tapi kengerian saya itu agak berkurang melihat pemandangan yang disajikan di hadapan: lembah dan pegunungan hijau berhutan, dengan puncak-puncak gunung bersaput awan yang tampak seperti kapas.

Hotel tempat kami menginap, Yoschi, berada 5 km dari perhentian akhir, Cemoro Lawang. Penginapan mungil ini menghadap sebuah lembah kecil di pinggir jalan. Sebuah papan kecil dalam bahasa Jerman (yang baru saya perhatikan pada saat akan keluar),

mengiklankan bahwa restoran di sana "menyediakan kentang tumbuk (mashed potatoes bahasa kerennya) terbaik dalam 20 tahun". Kamar yang kami pesan, yang paling murah, bersih dan cukup nyaman dengan dinding dari anyaman rotan, tapi tanpa kamar mandi di dalam. Ada dua kamar mandi umum untuk sekitar 6 kamar ditambah tiga kamar mandi lagi di dekat restoran, satu di antaranya kamar mandi air panas.

Kami sampai di hotel sekitar pukul 3 sore (kalau tidak salah). Masih cukup lama waktu sebelum malam tiba. Saya tergoda untuk terus berjalan kaki ke Cemoro Lawang, namun akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja sekitar hotel untuk melihat-lihat dan mencari warung makan. Restoran di hotel baru buka pukul tujuh malam, masih terlalu lama. Berjalan-jalan sekitar hotel ini ternyata berarti melangkah di jalan menanjak, dan membuat nafas terengah-engah. Namun udara pegunungan yang bersih cukup menyegarkan paru-paru. Kami berfoto-foto di beberapa tempat, termasuk di dekat sebuah pura yang tidak jauh dari hotel.

Meskipun rasanya sudah berjalan cukup jauh, kami belum juga menemukan tempat yang tampaknya adalah warung makan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Matahari sudah semakin rendah, dan kabut sudah turun. Gunung-gunung di sebelah utara yang tadinya masih kelihatan sudah sama sekali tertutup awan putih. Hujan renik (mungkin hujan zenith kalau pengetahuan geografi saya masih benar) sempat menerpa. Kami akhirnya makan malam di hotel saja.

Saya memesan mi kuah untuk makan malam dan jahe untuk minuman. Ada live music juga, dan meskipun penerangan cukup restoran memberikan lilin di setiap meja pengunjung. Musik Latin (kalau tidak salah) baru benar-benar dimainkan ketika kami hampir selesai makan. Kawan saya memutuskan untuk masuk kamarnya lebih dahulu, dan saya bertahan beberapa lama menikmati musik sebelum akhirnya masuk ke kamar saya. Kami harus bangun dini hari untuk naik jeep ke Bromo. Lebih baik tidur lebih cepat.